KETIKA memikirkan fakta bahwa remaja di Indonesia menjadi aktif secara seksual di usia muda memang merupakan hal yang menakutkan.
Namun pembahasan atau penyuluhan kesehatan di sekolah terkait aspek kesehatan dan seksual, termasuk program pendidikan tentang seks, HIV / AIDS, dan kehamilan di luar nikah masih dianggap tabu.
Padahal, penyakit menular seksual di antara kelompok-kelompok ini juga sedang naik daun dan mengkhawatirkan.
Misalnya, dari 2011 hingga 2016, lebih dari sepertiga (35,7 persen) infeksi HIV terjadi di kalangan remaja.
Menurut Kementerian Kesehatan, diskriminasi sosial juga membuat remaja HIV-positif menjauh dari mencari dukungan.
Ketakutan terhadap hukum dan stigma masyarakat telah membuat banyak orang enggan untuk mengungkapkan atau mengakui status HIV-nya dan itu tidak termasuk melakukan tes dan pengobatan HIV serta memanfaatkan jaringan dukungan sosial yang disediakan.
Dalam upaya memberikan kesadaran dan informasi kepada kaum muda, Federasi Asosiasi Kesehatan Reproduksi meluncurkan proyek pencegahan, pendidikan dan kesadaran yang menggunakan seni dan ekspresi kreatif dalam menjangkau kelompok sasaran ini.
Tujuannya agar remaja dapat menggali dan memahami mitos dan kesalahpahaman tentang HIV / AIDS dan menyalurkan informasi yang nyata tentangnya.
Bahkan, peserta diberikan wadah terbuka untuk mengungkapkan pemahamannya tentang penyakit tersebut.
Melalui program tersebut pula, sebagian besar peserta memahami atau mendapatkan informasi tentang HIV / AIDS dari internet atau bacaan di media yang sebagian besar tidak memberikan informasi yang konsisten dan akurat tentangnya.
Sementara itu, proyek juga berupaya menjembatani kesenjangan informasi dengan menyalurkan informasi tentang pengobatan HIV dan metode pencegahan seperti profilaksis pra pajanan (PrEP) dan profilaksis pasca pajanan (PEP) sebagai pilihan alternatif penggunaan kondom bagi remaja yang berisiko terinfeksi HIV.
Kegiatan seperti body mapping dan penggunaan masker juga dilakukan untuk membantu peserta memahami persamaan dan perbedaan antara orang yang hidup dengan atau tanpa HIV.
Hal ini bertujuan untuk menumbuhkan empati pada peserta, selain itu pelatihan ini menuntut peserta untuk mencoba memperdalam kehidupan pasien untuk memahami stigma dan diskriminasi yang harus mereka jalani setiap hari.
Untuk memastikan bahwa proyek ini dapat terlaksana dalam jangka panjang, juga diadakan sesi peer training dimana para remaja dilatih dan dibekali dengan informasi tentang HIV sehingga dapat memberikan dukungan dan bimbingan kepada teman sebaya lainnya.
Salah satu peserta yang akrab disapa Azri mengatakan program ini merupakan cara terbaik untuk memberdayakan, menyebarkan pengetahuan, dan mengoreksi misinformasi tentang HIV.
Untuk Pemasangan Billboard, Hubungi kami di :
WhatsApp / Office : +62813 1076 1888
Address : Perkantoran Grand Sudirman Blok D-18 Jl. Setia Maharaja, Pekanbaru 28282 , Riau – Indonesia
Email : [email protected]
Web : www.swastikaadvertising.com
Falcon Advertising, Swastika Advertising, Advertising, advertising agency, advertising pekanbaru, advertising riau, agency iklan pekanbaru, agency iklan riau, baliho pekanbaru, baliho riau, Billboard, billboard indo, billboard indonesia, Billboard Pekanbaru, billboard Riau, billboard terjangkau, dooh, lokasi baliho pekanbaru, lokasi baliho riau, lokasi billboard pekanbaru, lokasi billboard riau, marketing, media, ooh, out of home advertising, periklanan, reklame, sewa baliho pekanbaru, sewa baliho riau, sewa billboard pekanbaru, sewa billboard riau, sewa iklan pekanbaru, sewa iklan riau, sewa iklan, sewa reklame pekanbaru, sewa reklame riau, sewa billboard, spanduk, mini billboard, car billboard, spanduk




