Indonesia adalah negara yang sangat kaya dengan budaya yang beraneka ragam. Keanekaragaman budaya ini dikarenakan Indonesia memiliki banyak suku dan etnis dengan budayanya masing-masing.
Salah satu pengaruh akulturasi budaya Tionghoa di nusantara telah tertanam kuat di kalangan masyarakat Indonesia selama berabad-abad.
Mulai dari tradisi makanan hingga pakaian, pada momen-momen besar seperti Imlek menjadi sebuah perayaan pelestarian budaya bagi para keturunannya dan masyarakat asli Indonesia.
“Dari dulu, mereka sudah memiliki sifat merantau ke seluruh penjuru dunia. Nah, kebanyakan pendatang itu biasanya masuk lewat pelabuhan, jadi sebenarnya pengaruhnya ke kota-kota di pesisir,” ujar Perancang Busana dan Pengamat Mode ternama Indonesia, Musa Widyatmodjo, seperti yang dilansir dari liputan6.com.
Para imigran dari Tiongkok yang dibawa oleh Belanda sebagai pekerja membawa pengaruh budaya peranakan Tionghoa di Indonesia yang cukup kental dengan makanan, musik, dan asimilasinya ke dalam budaya lokal.
Sebagai seorang desainer, Musa juga menggunakan budaya Tionghoa sebagai inspirasi.
“Saya pernah membuat koleksi dari Sumatera Barat, kerajinannya banyak dipengaruhi oleh China, seperti selendang, bordir, sulaman, kalau dirunut akarnya kembali ke kerajinan dan bentuk-bentuk kain yang dibuat di China,” jelas Musa seraya mengatakan bahwa pengantin adat Sumatera Barat, sebenarnya dari kelambu, gorden yang inspirasinya berasal dari China.
Menurutnya, Sumatera Barat merupakan salah satu daerah di Indonesia yang sangat terasa pengaruh budaya Tionghoa. Akulturasi juga terjadi di kota-kota pelabuhan lain di Jawa seperti Jakarta, Cirebon dan Surabaya dengan batik pesisirnya.
Untuk pakaian, pengaruh budaya Tionghoa pada batik di daerah pesisir sangat terlihat dari berbagai motif yang diaplikasikan dalam simbol-simbol yang sarat akan makna filosofis.
Jika berbicara mengenai pakaian, elemen-elemen khas dalam pakaian Tionghoa seperti cheongsam menjadi ciri khas yang sering diadaptasi.
“Dalam batik, motif yang digambar di pesisir seperti Lasem. Batik Lasem sangat kental dengan motif Tionghoa,” lanjut Musa.
Ia juga mencirikan motif-motif pada batik Mega Mendung yang juga merupakan jenis batik pesisir. Sementara itu, simbol-simbol lain yang memiliki makna baik adalah burung hong, kupu-kupu, burung phoenix, dan bunga teratai sebagai penggambaran dari mitos tumbuhan dan herbal yang biasa digunakan oleh para keturunan.
Mengenai tren busana Imlek dari budaya Tionghoa, setiap tahunnya, kata Musa, para desainer memiliki formula dasar yang kurang lebih serupa.
Kerah Mandarin dan bentuk cheongsam, nuansa merah dan gambar-gambar yang terinspirasi oleh Peranakan seperti naga dan bunga sakura.
Untuk Pemasangan Billboard, Hubungi kami di :
WhatsApp / Office : +62813 1076 1888
Address : Perkantoran Grand Sudirman Blok D-18 Jl. Setia Maharaja, Pekanbaru 28282 , Riau – Indonesia
Email : [email protected]
Web : www.swastikaadvertising.com
Falcon Advertising, Swastika Advertising, Advertising, advertising agency, advertising pekanbaru, advertising riau, agency iklan pekanbaru, agency iklan riau, baliho pekanbaru, baliho riau, Billboard, billboard indo, billboard indonesia, Billboard Pekanbaru, billboard Riau, billboard terjangkau, dooh, lokasi baliho pekanbaru, lokasi baliho riau, lokasi billboard pekanbaru, lokasi billboard riau, marketing, media, ooh, out of home advertising, periklanan, reklame, sewa baliho pekanbaru, sewa baliho riau, sewa billboard pekanbaru, sewa billboard riau, sewa iklan pekanbaru, sewa iklan riau, sewa iklan, sewa reklame pekanbaru, sewa reklame riau, sewa billboard, spanduk, mini billboard, car billboard, spanduk




