FALCON Advertising
Top Choice for Your Business

Klik untuk hubungi kami >> Contact Us

Mengenal Romantisasi Toksik Kesehatan Mental

Meskipun diskusi terkait kesehatan mental makin sini makin meningkat, perdebatan dan miskonsepsi terhadap hal yang sama pun makin simpang siur. Media dan kultur budaya pop yang niatnya mencoba untuk merepresentasikan kesehatan mental dan membuka obrolan tentang topik ini pun malah banyak yang melewatkan hal-hal penting, seperti empati dan cara mereka menggambarkan kesehatan mental tersebut. Alhasil, representasi mereka ini malah berbuah menjadi miskonsepsi dan jatuh kepada jurang romantisasi toksik.

Romantisasi toksik kesehatan mental

Dalam sepuluh tahun belakangan ini, pembahasan tentang kesehatan mental mulai meluas. Kesadaran orang-orang terhadap kesehatan mental pun makin meningkat. Dari yang awalnya menganggap topik ini sebagai sesuatu yang tabu, kita sebagai kolektif sudah mulai menyadari pentingnya kesehatan mental. Meskipun begitu, bukan berarti maraknya topik tentang kesehatan mental ini tidak datang tanpa masalah-masalah lain.

Romantiasi toksik terhadap kesehatan mental mulai bisa dilihat pada awal-awal era digital. Kanal media sosial seperti Tumblr pada sekitar tahun 2012 bisa dibilang tombak awal munculnya budaya romantisasi toksik ini. Foto-foto dengan tone warna yang gelap atau hitam putih yang menampilkan orang-orang murung, penyalahgunaan minuman keras dan rokok dengan dibubuhi quotes-quotes pun mulai menyebar.

Baca Juga  Menggemaskan, Ini 5 Hewan Terkecil di Dunia

Salah satu pesan problematik romantisasi toksik yang sering disampaikan berbunyi seperti “Mungkin orang-orang yang ingin bunuh diri hanyalah malaikat yang ingin pulang.”. Meskipun penting untuk meningkatkan kesadaran orang lain terhadap masalah bunuh diri, glorifikasi dan romantisasi toksik seperti itu justru malah memperparah kondisi.

Sampai sekarang, tagar #selfharm atau #depression di berbagai media sosial pun dipenuhi oleh konten-konten yang triggering tapi dikemas sedemikian rupa. Romantisasi toksik ini membuat seakan-akan kesehatan mental yang buruk merupakan sesuatu yang ‘indah’. Belum lagi, karya-karya seni seperti musik yang niatnya mencoba untuk memberikan representasi terhadap masalah kesehatan m ental malah disalah kaprahkan menjadi sebuah glorifikasi dan romantisasi toksik, apalagi untuk orang-orang di bawah umur.

Maraknya pembahasan tentang kesehatan mental mulai menjadi sebuah peluang bagi industri-industri budaya populer seperti film dan musik untuk merepresentasikan kesehatan mental lewat romantisasi toksik. Salah satu budaya populer yang terkenal akan topiknya yang sensitif ini adalah serial buatan Netflix. Serial ini berjudul 13 Reasons Why. Perilisan ini menuai kontroversi karena selain membuka ruang untuk diskusi terkait kesehatan mental, pengemasan mereka malah menjadi romantisasi toksik dengan menglorifikasikan bunuh diri.

Baca Juga  Lima Hal yang Tidak Boleh Kamu Cantumkan di Dalam CV, Biar Ga Bikin Perusahaan Ilfeel

Pada serial tersebut, adegan pemeran utamanya bunuh diri ditontonkan secara gamblang dan graphic. Hal ini tentu sangat berbahaya, terutama untuk sebuah tontonan dengan target market remaja yang kondisi emosionalnya saja masih belum stabil. Selain itu, gagasan serial ini yang malah membuat bunuh diri sebagai cara untuk balas dendam amat sangat problematik dan merupakan romantisasi toksik.

Akibatnya, sebuah riset di Amerika oleh Journal of the American Academy of Child and Adolescent Psychiatry mengatakan bahwa tingkat bunuh diri pada remaja umur 10 sampai 17 meningkat drastis setelah sebulan perilisan serial tersebut. Hal ini menunjukan bahwa glorifikasi dan romantisasi toksik kesehatan mental yang buruk punya dampak yang sangat besar untuk masyarakat, khususnya remaja.

Untuk Pemasangan Billboard, Hubungi kami di :
WhatsApp / Office : +62813 1076 1888
Address : Perkantoran Grand Sudirman Blok D-18 Jl. Setia Maharaja, Pekanbaru 28282 , Riau – Indonesia
Email : [email protected]
Web : www.swastikaadvertising.com

Falcon Advertising, Swastika Advertising, Advertising, advertising agency, advertising pekanbaru, advertising riau, agency iklan pekanbaru, agency iklan riau, baliho pekanbaru, baliho riau, Billboard, billboard indo, billboard indonesia, Billboard Pekanbaru, billboard Riau, billboard terjangkau, dooh, lokasi baliho pekanbaru, lokasi baliho riau, lokasi billboard pekanbaru, lokasi billboard riau, marketing, media, ooh, out of home advertising, periklanan, reklame, sewa baliho pekanbaru, sewa baliho riau, sewa billboard pekanbaru, sewa billboard riau, sewa iklan pekanbaru, sewa iklan riau, sewa iklan, sewa reklame pekanbaru, sewa reklame riau, sewa billboard, spanduk, mini billboard, car billboard, spanduk

WhatsApp chat