Badan Internasional untuk Penelitian Kanker (IARC) yang berada di bawah Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengumumkan bahwa pemanis buatan aspartam sebagai karsinogenik atau dapat memicu kanker.
Walau begitu para pakar dalam lembaga IARC tersebut tidak mengubah batas maksimal konsumsi harian aspartam, yaitu 40 miligram per kilogram berat badan untuk orang dewasa.
Aspartam merupakan pemanis buatan yang sudah digunakan sejak tahun 1980-an. Produk ini lebih manis dari pada gula.
Ada berbagai jenis produk makanan dan minuman yang mengandung aspartam, misalnya saja seral, minuman soda diet, es krim, permen karet, kopi instan, hingga beberapa jenis obat-obatan.
Berbeda dengan IARC, badan keamanan obat dan pangan Amerika (FDA) menyebut bahwa para ilmuwan di badan ini tidak menganggap aspartam berbahaya selama digunakan untuk kondisi tertentu.
Di Indonesia, aspartam merupakan salah satu jenis pemanis buatan yang boleh digunakan untuk makanan dan minuman. Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menyatakan, hingga saat ini penggunaan aspartam di Indonesia masih diperbolehkan.
Aturan penggunaan aspartam tertulis dalam regulasi bahan pangan pemanis buatan Peraturan BPOM Nomor 11 tahun 2019 tentang Bahan Tambahan Pangan.
Regulasi tersebut mengacu pada Codex General Standard for Food Additives (Codex GSFA). Namun, BPOM mengaku akan tetap monitor aktif terkait perkembangan aspartam, terutama kajian-kajian WHO, JECFA, dan IARC.
Produk lain yang juga masuk dalam “kemungkinan karsinogenik” adalah aloe vera, nikel, dan acar sayuran dalam kemasan.
Beberapa penelitian sebelumnya telah dilakukan untuk mengetahui kaitan antara aspartam dengan risiko kanker, namun belum ada kesimpulan yang bulat.
Evaluasi terbaru ini menyebut bahwa ada risiko kanker dalam kondisi dan tingkat paparan tertentu.
Walau pun para ilmuwan belum sepakat tentang kemungkinan aspartam memicu kanker, namun mereka menyebut kita tetap harus membatasi asupan makanan dan minuman berpemanis.
Ada banyak bahaya lain dari asupan gula harian yang berlebihan selain kanker, yaitu risiko kegemukan, tekanan darah tinggi, dan diabetes.
WHO juga melarang penggunaan pemanis buatan untuk membantu proses penurunan berat badan, karena dalam jangka panjang hal ini tidak membantu.
Studi tahun 2022 di Perancis menemukan, orang yang mengonsumsi aspartam beresiko tinggi menderita stroke. Namun, mengganti gula dengan pemanis buatan tidak menurunkan risiko penyakit jantung.
Untuk Pemasangan Billboard, Hubungi kami di :
WhatsApp / Office : +62813 1076 1888
Address : Perkantoran Grand Sudirman Blok D-18 Jl. Setia Maharaja, Pekanbaru 28282 , Riau – Indonesia
Email : [email protected]
Web : www.swastikaadvertising.com
Falcon Advertising, Swastika Advertising, Advertising, advertising agency, advertising pekanbaru, advertising riau, agency iklan pekanbaru, agency iklan riau, baliho pekanbaru, baliho riau, Billboard, billboard indo, billboard indonesia, Billboard Pekanbaru, billboard Riau, billboard terjangkau, dooh, lokasi baliho pekanbaru, lokasi baliho riau, lokasi billboard pekanbaru, lokasi billboard riau, marketing, media, ooh, out of home advertising, periklanan, reklame, sewa baliho pekanbaru, sewa baliho riau, sewa billboard pekanbaru, sewa billboard riau, sewa iklan pekanbaru, sewa iklan riau, sewa iklan, sewa reklame pekanbaru, sewa reklame riau, sewa billboard, spanduk, mini billboard, car billboard, spanduk




