Top Choice for Your Business

Klik untuk hubungi kami >> Contact Us

Fakta Tentang Jerawat Hormonal dan Cara Mengatasinya

Banyak jerawat disebabkan oleh hormonal, termasuk yang kamu alami semasa pubertas. Namun, jerawat yang sama juga dialami pada perempuan dewasa, tepatnya di usia 20-an, 30-an, 40-an, dan bahkan 50-an. Kamu pernah mengalami atau sedang mengalami jerawat hormonal? Bagaimana cara mengatasinya?

Jerawat hormonal umumnya berhubungan dengan siklus menstruasi perempuan dan naik-turunnya hormon (estrogen dan progestrone) yang terjadi bersamaan. Fluktuasi hormon ini diyakini meningkatkan produksi minyak dalam pori-pori sehingga menyebabkan breakout. Selain itu, rasio hormon progesteron terhadap estrogen juga memiliki dampak pada level testosteron pada perempuan yang dapat memicu jerawat.

Jerawat hormonal akan memburuk saat mendekati siklus menstruasi di mana hormon progesteron sedang memuncak, atau saat menopause di mana hormon perempuan sedang dalam level terbawah.

Pada orang-orang yang memiliki jerawat hormon, para ahli menyarankan untuk mengurangi atau menghentikan konsumsi gula dan susu. Sebab, keduanya dapat memicu jerawat. Gula dan susu nggak terbatas hanya dua produk itu, tetapi juga termasuk nasi putih, kentang, permen, soda, jus dan makanan diproses. Namun perlu diingat kalau mengubah pola makan ini belum tentu efektif untuk sebagian orang.

Baca Juga  Jangan Ragu, Ini 8 Tanda Pria Benar-Benar Mencintaimu

Selain menjaga pola makan, para ahli juga menyarankan untuk menggunakan perawatan topikal jika ingin menyembuhkan jerawat hormonal. Perawatan topikal itu dapat berupa retinoid, antibiotik dan anti-inflamasi, juga salicylic acid atau benzoyl peroxide, dapat digunakan untuk menyembuhkan jerawat hormonal.

Lebih lanjut, para ahli mengatakan jika sebenarnya perawatan paling ampuh untuk menyembuhkan jerawat hormonal adalah dengan mengatasi masalah hormon tersebut. Mereka umumnya menyarankan orang-orang yang mengalami jerawat hormon untuk meminum obat-obatan yang berpengaruh dengan hormon, seperti pil kontrasepsi, yang dapat menjaga siklus menstruasi dan mengurangi jerawat.

Namun, jangan sembarangan meminum obat hormon atau pil kontrasepsi ini, Bela. Pasalnya, beberapa tipe pil justru memiliki kandungan yang dapat memperburuk situasi jerawatmu. Karena itu, sangat disarankan untuk berkonsultasi dengan dokter jika ingin mengonsumsi obat-obatan hormon ini.

Para ahli meyakini jika menjalani perawatan secara rutin, jerawat hormonal akan sembuh. Baik itu perawatan topikal, hormon, maupun lainnya seperti injeksi atau laser. Namun pada sebagian orang, jerawat hormonal itu boleh jadi akan kembali lagi ketika mereka menghentikan perawatannya.

Baca Juga  Saipul Jamil Dekat dengan Barbie Kumalasari Karena Kagum dan Nyaman

Meskipun pada sebagian lainnya, ada yang nggak kembali lagi. Karena itu, para ahli menyarankan pada orang yang pernah mengalami jerawat hormonal untuk tetap menjaga perawatannya. Misalnya sebelumnya seseorang menggunakan perawatan laser, disarankan untuk tetap melanjutkannya dengan alternatif lain seperti perawatan topikal.

Ketika ada jerawat muncul menjelang siklus menstruasi, dapat dipastikan itu adalah jerawat hormonal. Umumnya, jerawat itu akan menyebar di wajah bagian bawah, sepanjang garis rahang dan/atau sekitar mulut. Jerawat hormonal ini pun terlihat mendalam dan menimbulkan rasa sakit.

Namun jika pada dasarnya kamu memiliki kulit berminyak, blackhead dan/atau whitehead, boleh jadi itu bukan jerawat hormonal. Selain itu, stres juga menjadi faktor penyebab munculnya jerawat hormonal.

WhatsApp chat