Top Choice for Your Business

Klik untuk hubungi kami >> Contact Us

Dampak Buruk Over Stimulasi pada Anak

Orangtua perlu memberi stimulasi yang tepat sesuai dengan perkembangan dan kesiapan anak untuk mendukung kecerdasannya.

Ada berbagai jenis stimulasi yang diperlukan untuk perkembangan kemampuan anak sejak bayi sampai anak besar. Misalnya saja stimulasi motorik untuk membantu anak berjalan atau makan, hingga stimulasi berupa membacakan buku dan mengenal huruf.

Namun, orangtua harus hati-hati. Stimulasi yang tidak sesuai dengan tahap perkembangan anak bisa menyebabkan mereka mengalami overstimulasi. Hal ini dapat menyebabkan efek buruk pada anak, salah satunya menyebabkan tantrum.

Over stimulasi adalah respon tubuh terhadap aktivitas atau stimulasi yang berlebihan. Kita semua berinteraksi dengan stimulasi lingkungan setiap saat. Namun, kemampuan dan batasan tiap orang berbeda-beda.

Anak usia dini akan lebih mudah merasa over stimulasi dibanding anak yang lebih besar. Stimulasi berlebihan biasanya akan lebih rentan dialami anak penyandang autisme, kecemasan, atau gangguan perkembangan lainnya.

Pada dasarnya over stimulasi terjadi saat level rangsangan sensori melebihi kapasitas anak. Tiap anak punya batasan masing-masing dan kemampuan ini bisa berubah.

Baca Juga  Punya Rekan Kerja yang Menyebalkan, Ini Lima Tips yang Harus Kamu Lakukan

Tanda anak mengalami over stimulasi berbeda-beda tergantung usia dan temperamen anak.

Respon bayi saat mengalami over stimulasi biasanya menangis, menyentak tangan atau kaki, dan memalingkan wajah. Orangtua seringkali mengira anak hanya kelelahan.

Balita dan anak usia prasekolah biasanya mengalami tantrum, demikian juga dengan anak yang lebih besar namun mereka sudah bisa mengungkapannya lewat kata-kata. Ciri lain adalah anak menjadi agresif dan rewel.

Efek buruk lain jika mereka terlalu sering mengalami stimulasi berlebihan adalah jadi suka membangkang dan kemampuan belajarnya menurun.

Bila anak menunjukkan tanda-tanda tersebut, yang bisa kita lakukan adalah menghilangkan stimulasinya, termasuk membawa anak dari tempat bising atau ramai.

Jika anak mengalami over stimulasi dari lingkungan, bantulah mengurangi level stimulasinya misalnya dengan menutupi telinganya. Hindari menuntut anak untuk “menghadapinya”. Mereka butuh bantuan orangtua atau orang dewasa untuk menenangkan diri.

Cegah kondisi over stimulasi pada anak dengan memahami kebutuhannya. Misalnya bayi dan anak akan lebih mudah mengikuti aktivitas yang pendek dan memiliki jeda. Mereka butuh tidur siang atau waktu tenang setelah beraktivitas di lingkungan ramai.

Baca Juga  Twitter Rilis Fitur "For You" Mirip FYP TikTok, Ternyata Ini Gunanya
WhatsApp chat