Top Choice for Your Business

Klik untuk hubungi kami >> Contact Us

Bak Film Thriller, Cerita Pembunuhan Sadis di Korea Ini Bikin Merinding

Bagi penggemar drama Korea tentu tidak asing dengan beberapa serial bergenre thriller. Yup, drama Korea memang kerap kali mengangkat tema-tema menyeramkan tentang kasus pembunuhan sadis yang terjadi di negeri ginseng. Biasanya, sang pelaku digambarkan tak berperasaan dan memiliki gangguan kepribadian. Namun, rupanya pembunuhan sadis itu tak cuma ada di drama loh gan. Kasus-kasus tersebut rupanya beneran ada di dunia nyata.

Salah satu kasus nyata tentang pembunuhan sadis yang berlatar belakang gangguan kepribadian terjadi pada 2016 silam. Kasus ini diberi nama kasus pembunuhan Siheung City Apartement. Pasalnya, kasus ini terjadi di kawasan apartemen di daerah Siheung, Gyeonggi, Korea. Pembunuhan tersebut terjadi di salah satu keluarga yang beranggotakan ayah, ibu, kakak laki-laki dan adik perempuan. Sebuat saja sang ayah sebagai A, ibu sebagai B, kakak laki-laki sebagai C dan adik perempuan sebagai D.

Di pagi hari pada 19 Agustus 2016 sang ayah, A bangun pada pukul 6 pagi untuk berangkat kerja. Namun, ia mendengar suara bising dari ruang tamu. Saat dilihat ke ruang tamu, A melihat kedua anak dan istri mereka tengah mencoba membunuh anjing peliharaan mereka. Terkejut dengan tindakan keluarganya, A pun bertanya pada mereka. Keluarganya pun menjawab jika sang anjing telah dirasuki. Dan hal yang mereka lakukan adalah untuk menyingkirkan arwah jahat dari ancing tersebut. Ketika A mencoba menghentikan tindakan keluarganya, anak perempuan mereka meminta A tidak ikut campur.

Baca Juga  Fakta-fakta Bandara Halim Tutup Mulai 26 Januari

Sayangnya, A kemudian harus buru-buru pergi ke kantor karena sudah telat dan harus mengejar waktu pada pukul 6.20 pagi. Setelah ditinggal A pergi ke kantor, hal buruk mulai terjadi di keluarga tersebut. Keluarganya benar-benar membunuh anjing mereka. Naas, skenario yang terjadi selanjutnya justru semakin menyeramkan. Sepuluh menit setelah sang anjing meninggal, si anak peremupuan (D) tiba-tiba merasakan tangganya bergetar. Dan dengan tangannya ia mencoba mencekik dirinya sendiri. Ibunya (B) yang ketakutan pun kemudian mencoba menghentikan D. Tapi, D malah menyerang ibunya sendiri dan berusaha mencekiknya.

Tanpa berfikir secara logis, sang ibu pun berteriak dan mengatakan jika arwah jahat yang ada di tubuh anjing mereka telah berpindah kepada D. Mendengar ucapan ibunya, kakak laki-laki (C) pun berlari membantu sang ibu. Mereka berdua membawa D ke kamar mandi. Disana, pembunuhan terjadi. Saat sang ibu memegangi D, C sibuk mengambil sebuah pisau yang akhirnya ia tusukkan ke leher adiknya sendiri selama beberapa kali.

Setelah membunuh anaknya sendiri, sang ibu mengganti pakaiannya dan meninggalkan apartemen. Sementara C yang ditinggalkan akhirnya sadar dan menelpon sang ayah yang sedang bekerja. C menceritakan apa yang terjadi pada D. Dalam investigasi yang dilakukan A yang ditelpon anaknya itu mengaku awalnya tak percaya dan memilih mengirim rekannya ke apartemen mereka. Saat sampai di apartemen, teman A melaporkan jika didapati sebuah tubuh di kamar mandi. Polisi pun dilibatkan dan C ditangkap.

Baca Juga  Cara Menyemai Benih Sayuran, Ketahui 5 Faktanya Berikut

Setelah itu, pada malam hari yang sekitar pukul 6 malam, sang ibu yang awalnya pergi justru datang ke kepolisian dan menyerahkan diri. Setelah penyelidikan terungkap, ternyata ada fakta terkait gangguan kepribadian yang diderita sang ibu. Ibu mereka (B) diketahui menderita schizofrenia. Ia selalu percaya jika dirinya memiliki kekuatan layaknya shaman (dukun). Dia memutuskan tidak menjadi shaman dan memilih menikah dan memiliki keluarga. Lalu, entah karena alasan apa, keluarg A diketahui telah berpuasa selama 5 hari sebelum kejadian pembunuhan itu terjadi. Pihak berwajib menyatakan jika kejahatan itu terjadi akibat histeria dari schizofrenia dan halusinasi karena kelaparan.

Untuk kasus ini, jaksa penuntut umum meminta hukuman 20 tahun penjara untuk sang ibu dan 19 tahun untuk sang anak. Namun, pengadilan memberikan putusan berbeda. Sang ibu dinyatakan tak bersalah namun membutuhkan perawatan sehingga akan direhabilitasi. Pada 2019 sang ibu sudah dirilis dari pusat rehabilitasi dan kembali hidup dengan sang suami di apartemen mereka yang sempat jadi tempat pembunuhan. Sementara sang anak diputuskan menerima 10 tahun hukuman penjara. itu berarti, kini ia masih di dalam penjara dan akan bebas pada 2026 mendatang.

Baca Juga  Alasan Mengapa Wanita Lebih Mudah Alami Memar Dibanding Pria?
WhatsApp chat