Top Choice for Your Business

Klik untuk hubungi kami >> Contact Us

Artis Tiktok Lala Ternyata Anak Berkebutuhan Khusus, Sindrom Berbakat?

Shabira Alula, sering dipanggil Lala, yang merupakan artis Tiktok, kebetulan adalah salah satu gadis cerdas di atas rata-rata dengan kebutuhan yang sangat khusus.

Apakah Lala Termasuk Sindrom Anak Berbakat?

Pernyataan itu diungkapkan langsung oleh orang tua Lala, Oci Sabrina, yang mengatakan anaknya adalah anak berkebutuhan khusus alias ABK, tapi tidak termasuk kategori kekurangan tertentu, tapi sebaliknya karena diuntungkan.

“Sebenarnya lala itu sebenarnya anak berkebutuhan khusus juga, tapi bukan anak dalam bidang kekurangan. Katanya sih itu semacam kelebihan jadi materi belajarnya juga berbeda, karena dia ini akan cepat bosan, ketika dia sudah belajar. Misalnya perkalian dengan cara seperti ini merasa sudah bisa,” ungkap Oci di saluran Podcast YouTube Corbuzier.

Selain respon belajar Lala sangat cepat dan pesat, menurut hasil tes IQ anak usia 3 tahun mencapai 127 dan masih bisa meningkat menjadi 136.

Perlu diketahui bahwa seseorang dianggap jenius jika memiliki skor IQ lebih dari 120 hingga 130. Sedangkan tes IQ merupakan penilaian yang mengukur kemampuan kognitif dan memberikan penilaian terhadap kemampuan intelektual dan potensi seseorang.

Baca Juga  Viral Mobil Milik Pelakor Dicoret Istri Sah, Dikatain Enak? Lont* Bangs**

Bahkan menurut Oci, berdasarkan perkataan psikolog, bukan tidak mungkin karena Lala sangat cerdas, juga dikenal jenius, ia memiliki kemampuan untuk menjadi lebih cepat atau naik kelas lebih cepat dari anak-anak seusianya.

Bagi Oci, dia akan lebih fokus menggali potensi anak pertamanya. “Psikolognya sih sempat bilang, kalau misalnya nanti dia tidak mau belajar, jangan dipaksa karena dia menganggap bahwa dia sudah bisa,” jelas Oci.

Mengutip Child Mind Institute, terdapat anak-anak berbakat dan jenius di komunitas, kelompok anak dengan IQ di atas rata-rata masuk dalam kategori Anak Berkebutuhan Khusus (ABK), selalu haus akan tantangan dan mudah frustasi, ketika mereka berada bosan karena tidak ada tantangan baru. Hal ini karena jika mereka mengikuti jadwal pendidikan reguler dan tidak menantang rasa ingin tahunya, mereka menjadi frustrasi dan cemas.

Hasilnya adalah anak-anak dapat menderita depresi, kecemasan, dan rendah diri, yang menyebabkan masalah perilaku.

WhatsApp chat