Top Choice for Your Business

Klik untuk hubungi kami >> Contact Us

Jultagi, Kesenian Berjalan di Atas Tali dari Korea

Jultagi, Kesenian Berjalan di Atas Tali dari Korea

Seorang penulis bernama Irving Stone pernah berkata, “Kesenian adalah kebutuhan pokok. Seperti halnya roti atau mantel yang digunakan pada musim dingin.”

Manusia mutlak memerlukan hiburan untuk menghilangkan penat setelah letih bekerja GanSis. Tujuannya tentu agar bisa kembali fresh seperti sedia kala. Hiburan bisa dalam bentuk kesenian sebagai ekspresi dari berbagai ide, gagasan, dan nilai. Seperti yang dilakukan masyarakat Korea di masa lalu melalui kesenian bernama jultagi.

Jultagi, Kesenian Berjalan di Atas Tali dari Korea

Lukisan yang menggambarkan jultagi pada masa lalu.

Jultagi (Hangeul: 줄타기, “rentang tali”) adalah kesenian berjalan di atas tali yang terdaftar sebagai Warisan Budaya Tak Benda Korea Selatan nomor 58. Kesenian tradisional ini diperkirakan muncul pada era Silla dan Goryeo, lalu menjadi sangat populer ketika zaman Dinasti Joseon. Wah, sudah lama juga ya GanSis! Sampai sekarang pun seni akrobatik ini masih sering dimainkan loh.

GanSis tahu film Korea berlatar sejarah Dinasti Joseon berjudul The King and the Clown? Parah sih kalau gak tahu karena film ini menjadi yang terlaris di Korea pada tahun 2006. Nah ada part film ini yang menunjukkan kesenian jultagi.

Jultagi agak berbeda dengan kesenian berjalan di atas tali dari negara lain sebab ada iringan drama musikal yang menceritakan kisah tertentu kepada penonton. Jultagi juga mempunyai lebih dari 40 teknik dengan tingkat kesulitan beragam GanSis. Pokoknya yang paling sulit adalah mendarat duduk bersila di atas tali setelah melompat. Gak takut nyungsep apa ya?

Baca Juga  Ingat! Jika Diare Ringan, Jangan Langsung Minum Imodium Ya

Pada zaman Dinasti Joseon (1392-1910), jultagi terbagi menjadi dua kategori: penghibur resmi istana dan seniman jalanan (Namsadang Nori). Penghibur resmi istana dipertunjukkan saat acara kerajaan atau menyambut tamu kehormatan. Penontonnya terdiri dari keluarga kerajaan dan kalangan bangsawan GanSis. Sedangkan seniman jalanan bersifat spontan yang biasanya muncul ketika pesta rakyat.

Dari segi penghasilan jelas saja berbeda ya GanSis. Penghibur resmi istana memiliki gaji tetap, sementara seniman jalanan mendapat uang seikhlasnya dari penonton yang kebanyakan rakyat biasa. Penampilan pun jauh berbeda. Penghibur resmi istana yang lebih elit dan lengkap mengedepankan keunggulan teknik dan variasi, sedangkan seniman jalanan mengandalkan humor, seperti candaan atau sindiran terhadap kaum kelas atas yang cenderung serakah. Seniman jalanan juga tak segan menjadikan biksu-biksu yang menyeleweng sebagai sasaran sindiran. Kalau di sini pasti sudah dianggap penistaan.

Perbedaan lainnya adalah ukuran tali. Meskipun sama-sama terbuat dari tali rami, jultagi penghibur resmi istana berukuran lebih panjang, yaitu 3-10 meter. Sedangkan seniman jalanan lebih pendek, berkisar 3-6 meter.

Baca Juga  Sayembara Cari Istri Hilang, Pria Ini Terus Naikkan Hadiah, Awalnya Rp 75 Juta, Kini Rp 150 Juta

Musik pengiring jultagi terdiri dari kkwenggwari (gong kecil), jing (gong besar), janggu (gendang khas Korea), dan taepyeongso (suling bernada tinggi). Biasanya sebelum jultagi dimulai, pemain melakukan ritual doa untuk mendoakan guru-guru atau teman-teman seprofesi yang telah tiada, sekaligus meminta perlindungan agar acara berjalan lancar tanpa gangguan roh jahat. Selanjutnya arak sesajen disiram ke tali yang akan digunakan untuk pertunjukkan.

Jultagi sangat mudah ditemui di Korea. Umumnya dimainkan saat hari libur nasional yang banyak mengadakan festival budaya. Selain itu, lokasi wisata berbasis desa tradisional juga sering mempertunjukkan jultagi, seperti di desa Minsok, Gyeonggi yang sangat populer bagi wisatawan lokal Korea atau mancanegara.

WhatsApp chat